PERAIH PENGHARGAAN INDROYONO AWARD 2026

Dalam acara Gala Dinner PIT ISOI XXII yang digelar Gubernur Bali di kediaman resminya, diumumkan peraih Penghargaan Indroyono Award 2026.

Indroyono Award merupakan penghargaan yang diberikan kepada peneliti atau dosen dalam bidang kelautan di Indonesia. Penghargaan ini diberikan pertama kali pada gelaran PIT ISOI XXI di Universitas Diponegoro, Semarang, 2025 lalu.

Penghargaan ini didedikasikan oleh Prof. Dr. Indroyono Soesilo, M.Sc. pakar geologi kelahiran Bandung yang dikenal sebagai peneliti, politikus dan sekaligus diplomat. Saat ini menjabat sebagai Duta Besar RI untuk Amerika Serikat. Sebelumnya, Prof. Indroyono pernah menjadi Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman pada Kabinet Merah Putih (2014-2015) serta Direktur Sumber Daya Perikanan dan Aquakultur FAO, PBB (2012–2014).

Prof. Dr. Indroyono Soesilo, M.Sc.

Penghargaan Indroyono Award diberikan sebagai bentuk apresiasi kepada ilmuwan dan akademisi Indonesia yang memiliki prestasi ilmiah luar biasa di bidang ilmu kelautan. Pemenang merupakan individu yang memiliki capaian dan karya masterpiece yang telah diakui di tingkat nasional atau internasional dan berusia muda yakni di bawah  50 tahun.

Kriteria utama penilaian meliputi aspek integritas calon penerima; prestasi yang telah dicapai dan signifikansinya; pengaruh (influence) dari karya terhadap masyarakat/bidang terkait; konsistensi dalam berkarya; dan relevansi karya dengan kemanfaatan bagi masyarakat luas. Kandidat akan mendapat nilai lebih jika menonjol keindonesiannya, pengabdian, kemanfaatan, kebersamaan, serta motivatornya. Impacts dari karyanya, diukur dari angka high index versi Scopus dan Google Scholar.

Pemberian Penghargaan Indroyono Award 2026

Dalam PIT ISOI XXII, seleksi dilakukan oleh dewan juri independen ISOI dengan kepakaran yang diakui, diketuai Ivonne M. Radjawane, S.Si., M.Si., Ph.D. dari ITB. Terpilih sebagai pemenang adalah, sbb: 

I Gede Hendrawan, S.Si, M.Si, Ph.D

Merupakan dosen muda menjabat sebagai Lektor Kepala pada Program Studi Ilmu Kelautan, Fakultas Kelautan dan Perikanan, Universitas Udayana-Bali.

I Gede Hendrawan meraih gelar Ph.D. di bidang Environmental Hydraulics dari Yamaguchi University, Jepang. Merupakan lulusan program sarjana sains fisika dan master sains ilmu lingkungan dari Universitas Udayana. I Gede Hendrawan dikenal sebagai pengajar yang produktif dan telah menerbitkan lebih dari 100 karya ilmiah.

Dikutip dari laman profilnya, disebutkan ia telah memimpin berbagai proyek kolaboratif yang didukung oleh lembaga nasional maupun internasional, termasuk Australian National University, CSIRO, dan WWF.  Saat ini ditunjuk sebagai Wakil Direktur proyek Plastic in Indonesian Society (PISCES) yang didanai oleh UKRI-GCRF.

Kelompok bidang ilmu yang ditekuni adalah pemodelan pencemaran pesisir dan laut. Penelitiannya mengintegrasikan survei lapangan, penginderaan jauh, dan pemodelan numerik untuk mendukung strategi pengurangan sampah plastik di laut. Tercatat memiliki  indeks Scopus h-12 dan Google Scholar h-index 22. (***)

Dr. rer. nat. Rima Rachmayani, S.Si., M.Si.

Merupakan Lektor pada Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian Institut Teknologi Bandung (ITB). Dikenal dengan kepakaran di bidang marine geologi dan paleoseanografi, bagian dari Kelompok Keahlian Oseanografi Lingkungan dan Terapan.   

Dr. Rima Rachmayani menyelesaikan pendidikan sarjana dan master dari Institut Teknologi Bandung. Gelar Doktor diperoleh dari Bremen University, Jerman. Saat ini menjabat sebagai Ketua Program Studi Oseanografi, ITB.

Prestasinya yang menonjol adalah sebagai Penerima Riset Kolaborasi Luar Negeri PHC-Nusantara. Dr. Rima Rachmayan juga dikenal sebagai penulis Buku Anak bidang Kelautan dan Perubahan Iklim dan tercatat sudah menerbitkan  6 judul buku populer. Memiliki  indeks Scopus h-10 dan Google Scholar h-index 12.

Dari laman ITB menyebutkan, Dr. Rima Rachmayani merupakan dosen berprestasi pada Program Studi Oseanografi dan pernah mendapatkan Penghargaan Dies ITB ke-65 dalam bidang Pengabdian kepada Masyarakat.

Salah satu judul bukunya yang beredar di pasaran dan banyak diminati “Bumiku Demam Tinggi” yang menceritakan secara gamblang dalam bahasa sederhana terjadinya pemanasan global untuk kalangan pembaca anak-anak dan remaja.(***)